notes of life

Rabu, 24 Agustus 2011

INJEKSI INTRAVENA


BAB I
PENDAHULUAN
1.1       Latar Belakang
Obat didefinisikan sebagai suatu substansi atau bahan yang di gunakan untuk mendiagnosa, menyembuhkan, mengatasi, membebaskan atau mencegah penyakit. Obat telah di gunakan manusia sejak peradapan kuno. Misalnya orang – orang Mesir pada zaman dahulu telah menggunakan magnesium, soda, garam besi dan sulfur sebagai bahan obat.
( Priharjo Robert : 1-2 )
    Jalur vena di pakai khususnya untuk tujuan agar obat yang diberikan dapat bereaksi dengan cepat misalnya pada situasi gawat darurat, obat dimasukkan ke vena sehinnga obat langsung masuk sistem sirkulasi menyebabkan obat dapat beraksi lebih cepat di banding dengan cara enternal atau parental yang lain yang memerlukan waktu absorbsi.
Pemberian obat intervena dilakukan dengan berbagai cara. Pada pasien yang tidak dipasang infus, obat di injeksikan langsung pada vena. Biasanya di cari vena besar yaitu vena basilika atau vena sefalika pada lengan. Pada pasien yang di pasang infus, obat dapat di berikan melalui botol infus atau melalui karet pada selang infus yang dibuat untuk memasukkan obat.
          Untuk memasukkan obat melalui vena, perawat harus mempunyai pengetahuan dan keterampilan sehingga tidak terjadi kesalahan dalam pelaksanaan. Jangan lakukan penusukan sebelum yakin mendapatkan vena yang mudah di tusuk. Pengulangan tusukan dapat menyebabkan rasa sakit pada pasien.
( Priharjo Robert : 67- 69 )

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian injeksi intravena :
Pemberian obat dengan cara memasukkan obat ke dalam pembuluh darah vena dengan menggunakan spuit. Sedangkan pembuluh darah vena adalah pembuluh darah yang menghantarkan darah ke jantung.

2.2   Dapat dilakukan pada ( Indikasi ) :
1.     Pasien yang membutuhkan, agar obat yang di berikan dapat di berikan dengan cepat.
2.    Pasien yang terus menerus muntah – muntah
3.    Pasien yang tidak di perkenankan memasukkan apapun juga lewat mulutnya.
4.    Typoid
5.    Sesak nafas
6.    Epilepsi atau kejang – kejang
2.4   Tujuan injeksi :
      a. untuk memperoleh reaksi obata yang cepat diabsorpsi dari pada dengan
          injeksi perenteral lain
b. untuk menghindari terjadinya kerusakan jaringan
c. untuk memasukkan obet dalam jumlah yang lebih besar
2.5  Lokasi injeksi :
Memberikan obat melaui vena secara langsung, di antaranya :
  1. vena medianan cubitus / cephalika ( daerah lengan ),
  2. vena saphenous ( tungkai ),
  3. vena jugularis ( leher )
  4. vena frontalis / temporalis di daerah frontalis dan temporal dari kepala.
2.6   Bahaya Pemberian Injeksi :
1.     Pasien alergi terhadap obat (misalnya mengigil, urticaria, shock, collaps dll)
2.    Pada bekas suntikan dapat terjadi apses, nekrose atau hematoma
3.    Dapat menimbulkan kelumpuhan
2.7 Keuntungan dan Kerugian :  
1.         Keuntungan :
Tidak mengalami tahap absorbsi, maka kadar obat dalam darah diperoleh secara cepat, tepat dan dapat disesuaikam langsung dengan respon penderita. Larutan tertentu yang iriatif  hanya dapat diberikan dengan cara ini karena dinding pembuluh darah relative tidak sensitive dan bila di suntikkan perlahan – lahan obat segera di encerkan oleh darah.

2.        Kerugian :
Efek toksik mudah terjadi karena keadaan obat yang tinggi segera mencapai darah dan jaringan. Disamping itu, obat yang di suntikkan tidak dapat di tarik kembali. Obat dalam larutan minyak yang mengendapkan konstituen darah dan yang menyebakan hemolisis.


BAB III
METODELOGI

3.1 Pemberian Obat Melalui Intravena ( Secara Langsung )
Persiapan alat :
1.   buku catatan pemberian obat atau kartu obat
2. kapas alkohol
3. sarung tangan  
4. obat yang sesuai
5. spuit 2ml – 5 ml
6. bak spuit
7. baki obat
8. plester
9. perlak pengalas
10. karet pembendung ( tourniquet )
11. kasa steril ( bila perlu )
Prosedur Kerja :
1.     Cuci tangan
2.    Siapkan obat dengan prinsip enam benar
3.    Indentifikasi klien
4.    Beri tahu klien dan jelaskan prosedur yang akan diberikan
5.    Atur klien pada posisi yang nyaman
6.    Pasang perlak pengalas
7.    Bebaskan lengan klien dari baju atau kemeja
8.    Letakkan karet pembendung ( torniquet )
9.    Pilih area penususkan yang bebas dari tangda kekakuan, peradangan atau rasa gatal. Menghindari gangguan absorpsi obat atau cidera dan nyeri yang berlebihan
10. Pakai sarung tangan
11.  Bersihkan area penusukan dengan menggunakan kapas alkohol , dengan gerakan sirkuler dari arah dalah keluar dengan diameter sekitar 5 cm. Tunggu sampai kering. Metodr oni dilakukan untuk membuang sekresi dari kulit yang mengandung mikroorganisme
12. Pegang kapas alkohol dengan jari - jari tengah pada tangan non dominan
13. Buka tutup jarum
14. Tarik kulit kebawah kurang lebih 2,5 cm dibawah area penususkan dengan tangan
non dominan. Membuat kulit lebih kencang dan vena tidak befrgeser, memudahkan
penusukan
15. Pegang jarum pada posisi 300 sejajar vena yang akn ditusuk perlahan pasti
16. Rendahkan posisi jarum sejajar kulit dan teruskan jarum kedalam vena
17. Lakukan aspirasi dengan tangan nono dominan menahan barel dari spuit dan tangan
dominan menarik plunger
18. Observasi adanya draah dalam spuit
19. Jika ada darah, lepaskan terniquet dan masukkan obat perlahan – lahan
20.Keluarkan jarum dengan sudut yang sama seperti saat dimasukkkan (300) , sambil
melakukan penekanan dengan menggunakan kapas alkohol pada area penusukan
21. Tutup area penusukkan dengan menggunakan kassa steril yang diberi betadin
22.Kembalikan posisi klien
23.Buang peralatan yang sudah tidak diperlukan
24.Buka sarung tangan  
25.Cuci tangan
26.Dokumentasikan tindakan yang telah dilakukan
( Ambarwati Retna Eny, S. SiT & Tri sunarti, SST.2009.Ketrampilan Dasar Praktik Klinik Kebidanan Teori dana Aplikasi.Jogjakarta: 182 - 184 )
 3.2 Pemberian Obat Melalui Infus ( Secara Tidak Langsung )
          Dengan pelantaraan Infus Intravena, maka cairan atau darah dapat dimasukaan ke dalam pembulu vena. Cairan yang di masukkan dengan cara demikian ini harus di alirkan perlahan – lahan masuk ke dalam pembuluh vena bersangkutan. ( Bouwhuizen M. : 9 )
          Pasien yang terpasang infus mendapat order obat yang dimasukkan secara intravena. Maka perawat tidak perlu membuat tusukan baru tetapi memasukan obat melaui karet pada pipa infus yang di ranacang untuk memasukan obat atau melalui botol infus. Dalam tindakaan ini, perawat harus memperhatikan teknik aseptik yaitu dengan mengusap tempat yang akan di tusuk dengan kapas antiseptik. Klem infus di matikan selama obat di masukn dan apabila sudah selesai, kecepatan tetesan di atur krmbali. ( Priharjo Robert : 69 )

Pemberian Obat  Melalui infus ( secara tidak langsung ) ada dua cara, yaitu :
A.     Pemberian obat melalui wadah intravena.
Memberikan obat intravena melalui wadah merupakan pemberian obat dengan menambahkan atau memasukkan obat ke dalam wadah cairan intravena. Tujuannya : untuk meminimalkan efek samping dan mempertahankan kadar terapeutik dalam darah.
Persiapan Alat dan Bahan :
1.         Spuit dan jarum sesuai dengan ukuran
2.        Obat dalam tempatnya
3.        Wadah cairan ( kantong atau botol )
4.        Kapas alcohol.
Prosedur Kerja :
1.         Cuci tangan
2.        Jelaskan pada pasien mengenai prosedur yang akan dilakukan.
3.        Periksa identitas pasien, kemudian ambil obat dan masukkan ke dalam spuit.
4.        Cari tempat penyuntikan obat pada daerah kantong.
5.        Lakukan desinfeksi dengan kapas alkohol dan stop aliran.
6.        Lakukan penyuntikan dengan memasukan jarum spuit hingga menembus bagian tengah dan masukkan obat berlahan – lahan ke dalam kantong atau wadah cairan.
7.        Setelah selesai, tarik spuit dan campur larutan dengan membalikan kantong cairan secara perlahan – lahan dari satu ujung ke ujung lain.
8.        Perikasa kecepatan infus
9.        Cuci tangan
10.      catat reaksi pemberian, tanggal, waktu, dan dosis pemberian obat.
B.     Pemberian obat melalui selang intravena.
Persiapan Alat dan Bahan :
1.         Spuit dan jarum yang sesui dengan ukuran
2.        Obat dalam tempatnya
3.        Selang intra vena
4.        Kapas alkohol
Prosedur Kerja :
1.         Cuci tangan
2.        Jelaskan pada pasien mengenai yang akan dilakukan.
3.        Periksa identitas pasien, kemudian ambil obat dan masukan ke dalam spuit.
4.        Cari tempat penyuntikan obat pada daerah selang intravena.
5.        Lakukan desinfeksi dengan kapas alkohol dan setop aliran.
6.        Lakukan penyuntikan denagn memasukan jarum spuit hinnga menembus bagian tengah dan masukan obat secara perlahan – lahan ke dalam selang intravena.
7.        Setelah selesai, tarik spuit.
8.        Periksa kecepatan infus dan observasi reaksi obat
9.        Cuci tangan
10.     Catat obat yang telah di berikan dan dosisnya.
( Hidayat, A. Aziz Alimul. Uliyah Musrifatun.: 209 - 211 )

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan :
          Pemberin obat melaui injeksi intravena dapat dilakukan dengan cara langsung dan tidak langsung. Cara langsung yaitu spuit langsung di tusukan pada vena. Sedangkan cara tidak langsung yaitu dimana spuit di tusukkan pada infus melalui wadah intravena ( wadah / kantong infus ) dan melalui selang intravena (pada selang infus yang terbuat dari karet).
Pada pemberian obat secara langsung, obat dalam darah di peroleh secara cepat, tepat dan dapat disesuaikam langsung dengan respon penderita. Namun obat yang di suntikkan tidak dapat di tarik kembali.


 DAFTAR PUSTAKA

  1. Priharjo, Robert. 1995 . Teknik Dasar Pemberian Obat Bagi Perawat . Jakarta : EGC
  2. Bouwhuizen, M. 1991 . Ilmu Keperawatan . Jakarta : EGC
  3. Hidayat, A.Aziz Alimul. Uliyah, Musrifatul. 2008 . Keterampilan Dasar Praktik Klinik . Jakarta : Salemba Medika


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar